December 24, 2008

Dalam rangka melaksanakan poin ke-3 dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) pada tanggal 23 Desember 2008, kami Tim dari Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, mengadakan Pelatihan Manajemen Perpustakaan Sekolah.

 

Sasaran yang kami pilih untuk kegiatan PKM kali ini adalah guru-guru UPTD Pengelola TK, SD, SLB, Kecamatan Rajapolah Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, yang terdiri dari 27 SD dan 1 MI. 28 Sekolah tersebut terbagi dalam 5 gugus. Masing-masing sekolah mengirimkan 2 wakilnya yaitu kepala sekolah dan 1 orang guru, kecuali untuk gugus 1 karena ada permintaan maka seluruh guru di gugus 1 yang terdiri dari 5 SD dapat mengikuti pelatihan seluruhnya. Jumlah seluruh peserta adalah 77 orang.

 

Pelatihan dilaksanakan di SD Cibungbun Kampung Ciburial Desa Manggungjaya Kecamatan Rajapolah. Acara dibuka oleh kepala UPTD dilanjutkan dengan penyampaian materi.

 

Adapun materi pelatihan mencakup :
1. Manajemen Perpustakaan disampaikan oleh Drs. Dian Sinaga, M.Si.
2. Organisasi Informasi disampaikan oleh Drs. Pawit M.Yusup, M.S.
3. Administrasi Perpustakaan disampaikan oleh Nuning Kurniasih, S.Sos., M.Hum.
Sebagai gambaran, sekolah-sekolah di lingkungan UPTD TK, SD, SLB, Kecamatan Rajapolah Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya saat ini masih belum memiliki ruang perpustakaan secara khusus, sehingga mereka menyiasatinya dengan menyekat ruang kelas untuk dipergunakan sebagai perpustakaan. Sangat ironis memang di tengah berbagai bantuan buku ke sekolah-sekolah, infrastruktur belum diperhatikan secara menyeluruh. Termasuk juga tenaga pengelola perpustakaan. Saat ini perpustakaan sekolah di lingkungan UPTD TK, SD, SLB, Kecamatan Rajapolah Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya juga belum memiliki staf perpustakaan secara khusus. Perpustakaan berjalan di tengah waktu luang guru setelah mengajar dari kelas. Dengan kondisi perpustakaan yang seperti ini, bagaimana perpustakaan dapat menjadi jantung bagi sebuah lembaga pendidikan? (Nuning)

Berikut ini beberapa foto kegiatan :

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/pelatihan-manajemen-perpustakaan.html

December 13, 2008

Pada tanggal 2-5 Desember 2008 di selenggarakan International Conference on Asia Pasific Digital Libraries ke-11 (ICADL 2008). Konferensi ini diselenggarakan di Bali tepatnya di Discovery Kartika Plaza dan dihadiri oleh sekitar 400 peserta, 100-an peserta dari luar negeri dan 300-an peserta dari dalam negeri. Menurut Zainal A.Hasibuan, Ph.D., General Chair ICADL 2008, tujuan dari diselenggarakannya konferensi ini adalah untuk menstimulat dan membuka diskusi diantara para peneliti, akademisi, praktisi dan para pengambil kebijakan dalam rangka kolaborasi penelitian dan sharing pengalaman dalam pengembangan dan implementasi perpustakaan digital. Karena perpustakaan digital tidak hanya milik orang-orang perpustakaan, maka konferensi ini juga banyak diikuti oleh orang-orang dari bidang teknologi informasi terutama ilmu komputer. Dalam konferensi internasional ini dipresentasikan 30 makalah lengkap (full papers), 21 makalah singkat (short papers) dan 17 poster, dengan tema-tema sebagai berikut :

1. Library Devices

2. Supporting Languages

3. Cataloging People

4. Building Collections

5. Web 2.0

6. Information Visualization

7. Search Technology

8. Service Structures

9. Scanning and Segmenting

Tentang apa dan bagaimana ICADL dapat dilihat di http://www.icadl2008.org/.

 

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi sedikit cerita dan foto-foto baik dalam kegiatan tersebut maupun di luar kegiatan tersebut selama berada di Bali. Saya mulai dari hari terakhir. (Nuning)

 

6 Desember 2008

ICADL 2008 telah berakhir kemarin sore, namun kami baru mendapat tiket pulang hari ini. Sambil menunggu jadwal pulang, foto dulu akh bersama dosenku yang juga General Chair ICADL 2008, Pa Zainal A.Hasibuan, Ph.D. atau yang lebih akrab dipanggil Pa Ucok dan temanku Mba Vita dari UI di Kartika Plaza. Setelah ini kami berpisah dan saya pulang ke Bandung sendirian lagi.

 

5 Desember 2008
Hari ini hari terakhir konferensi. Pada hari terakhir ini masih ada satu sesi yang dapat kami pilih untuk kami ikuti, yaitu Digital Library Services atau Recommendation System. Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi panel untuk Consortium iSchool in Asia Pasific (CiSAP) yang dipimpin oleh ketua konsorsiumnya yaitu Prof. Shalini R.Urs. Executive Director International School of Information Managemen University of Mysore India. Acara kemudian ditutup dan dilanjutkan dengan post-conference tour ke Nyuh Kuning Giayar Ubud Bali.

 

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/foto-foto-icadl-2008.html

 

December 13, 2008

Desember ini saya bersama teman-teman peserta International Conference on Asia Pasific Digital Libraries (ICADL 2008) berkesempatan mengunjungi perumahan adat Bali di daerah Nyuh Kuning, Ubud, Giayar, Bali. Pada kesempatan tersebut kami mengunjungi rumah I Ketut Muka Pendet dan rumah orang tuanya yaitu keluarga Pendet.

 

Menurut I Ketut Muka Pendet, pada dasarnya rumah adat ini terdiri dari tiga, yaitu yang diperuntukkan bagi mereka yang masih single (lajang), yang sudah menikah dan untuk upacara adat. Sedangkan dapur terpisah dari bagian-bagian tersebut.

 

Berikut ini saya tampilkan rumah I Ketut Muke Pendet dan Rumah Keluarga Pendet. (Nuning)

 

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/rumah-adat-bali-di-nyuh-kuning.html

December 13, 2008

Museum Pendet terletak di Nyuh Kuning Ubud Bali, dibuka oleh pelukis kenamaan Ida Bagus Made pada tanggal 14 April 1999 dan diresmikan oleh Bupati Giayar Tjok Gede Budi Suryawan, SH. pada 26 Desember 2002. Museum Pendet menyimpan hasil karya Wayan Pendet berupa sedikitnya 80 patung ditambah 29 lukisan. Museum Pendet dikelola oleh Yayasan Wayan Pendet dengan mengadaptasi konsep bale bali. Inilah gambar yang berhasil saya abadikan dan saya bagi untuk Anda. (Nuning)

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/museum-pendet-nyuh-kuning-bali-i.html

December 13, 2008

Royal Selangor Pewter Museum terletak di Setapak Jaya, Kuala Lumpur, dengan bangunan seluas 40.000 square feet.
Pewter museum memproduksi, menyimpan dan menjual beragam karya yang berasal dari campuran dari timah, tembaga dan antimony.


Apabila Anda berkunjung ke sana Anda dapat melihat Tankard terbesar di dunia di depan gedung Pewter Museum. Di dalam gedung/pabrik Royal Selangor, Anda tidak hanya dapat melihat cara pembuatan beragam karya dari Pewter, tetapi bak sebuah tempat wisata Anda juga akan disuguhi pemandangan yang mengagumkan beragam benda dari pewter yang usianya lebih dari satu abad, seperti kotak tembakau, lampu minyak, lentera China, dan tak ketinggalan replika Twin Tower.

Gambar di atas adalah salah satu hasil karya Royal Selangor. Pemandu dari Royal Selangor akan menjelaskan setiap detail yang ada di sana.

 

Di dalam gedung juga terdapat gambar ratusan telapak tangan manusia seperti gambar di samping. Ratusan telapak tangan inilah yang mula-mula membangun gedung Royal Selangor.

 

Apabila Anda haus sewaktu berkeliling di sana, Anda dapat menikmati air putih yang disajikan dalam gelas pewter. Hmm... segar...
Tertarik untuk membeli hasil karya mereka? Tidak perlu khawatir karena di sana juga tersedia galeri yang menjual barang-barang yang mereka hasilkan. Harganya? Mulai dari puluhan ringgit. (Nuning)

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/royal-selangor-pewter-museum_13.html

December 2, 2008

Batu Caves merupakan tempat ibadah suci bagi orang Hindu di Malaysia, terletak di negara bagian Selangor, sekitar 13 km dari kota Kuala Lumpur. Patung dewa Murugan setinggi 4,3 meter tampak menjulang begitu kita memasuki kawasan Batu Caves.

 

 

Di Batu Caves terdapat 3 gua utama dan satu gua kecil. Untuk sampai ke pura, kita harus menaiki 272 anak tangga ditambah sekitar 50 anak tangga di dalamnya. Sepanjang perjalanan menaiki tangga, ada banyak monyet yang berkeliaran bebas. Sehingga kita harus ekstra hati-hati memelihara barang-barang kita dari jamahan monyet-monyet tersebut.

 

Setelah melewati tangga, kita dapat melihat beberapa orang hilir mudik membawa ular sementara itu semakin masuk ke dalam gua, akan semakin tercium bau yang semakin menyengat. Saya sendiri hampir tidak kuat mencium bau tersebut sehingga memutuskan untuk tidak sampai ke ujung gua.

Setiap tahun sekali pada bulan Februari, Batu Caves akan menjadi lautan manusia karena pada bulan tersebut biasanya diadakan festival Thaipusam. (Nuning)

 

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2008/12/batu-caves.html

November 10, 2007

Minggu Pagi. 5 November 2007.

Pagi ini teman-teman mengajakku jalan ke Kampung Naga, sebuah kampung adat di daerah Salawu Tasikmalaya yang syarat nilai-nilai kehidupan. Sebenarnya sudah lama aku mendengar tentang kebersahajaan kampung adat ini, tetapi baru sekarang aku bisa benar-benar menyaksikan betapa masyarakat Kampung Naga begitu bersahaja dengan tetap menganut nilai-nilai yang telah diwariskan leluhurnya secara turun-temurun. Suasana kampung adat telah terasa begitu kita memasuki kampung Legok Desa Neglasari dengan menapaki ratusan anak tangga dan jalan setapak disamping kanan sungai Ciwulan. 108 rumah adat dengan bentuk yang sama ada di sana. Semuanya tanpa listrik.

 

Ketidakberadaan listrik di Kampung Naga didasarkan pada alasan bahwa material rumah yang berasal dari kayu/bambu yang mudah terbakar dan menghindari kesenjangan sosial. Karena dengan adanya listrik maka orang yang mampu akan bisa membeli lemari es, komputer dan barang elektronik lainnya, sementara yang tidak mampu tidak dapat membeli. Keunikan lainnya adalah pada letak dapur yang berada di depan rumah, dengan maksud bahwa kalau ada tetangga yang kekurangan saat memasak bisa meminta bantuan tetangganya dengan mudah. Selain itu kita tidak akan melihat adanya kamar mandi di rumah-rumah, karena ada Pagar Kandang Jaga yang membatasi wilayah “bersih” dan wilayah “kotor. Rumah-rumah, rumah ageung, balai pertemuan, leuit (lumbung padi) dan mesjid terletak di dalam pagar yang disebut wilayah “bersih”, sementara kamar mandi / jamban, kandang hewan, tempat menumbuk padi berada di luar pagar atau termasuk wilayah “kotor”.

 

Kesederhanaan dan kebersamaan menjadi ciri unik masyarakat Kampung Naga hingga kerukunan dapat terjalin dengan kuat. Dengan falsafah ”Panyauran gancang temonan, pamundut gancang caosan, parentah gancang lakonan”, masyarakat setempat tetap mengikuti program-program pemerintah selama tidak bertentangan dengan adat setempat.

 

Nah teman-teman... kalau teman-teman suka dengan objek wisata budaya, Kampung Naga agaknya bisa menjadi alternatif tujuan objek wisata budaya. (Nuning)

Sources: http://nuningkurniasih.blogspot.com/2007/11/kampung-naga.html

1/1

Please reload

NING'S UNIVERSITY OF LIFE: EDUCATION FOR ALL IS MY DREAM

Provided by Nuning Kurniasih